Informasi Kepada Pengunjung

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog ini, Semoga anda senang dan sering Berkunjung Ke_Blog ini lagi...."SEE You"

Informasi Kepada Pengunjung

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog ini, Semoga anda senang dan sering Berkunjung Ke_Blog ini lagi...."SEE You"

Informasi Kepada Pengunjung

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog ini, Semoga anda senang dan sering Berkunjung Ke_Blog ini lagi...."SEE You"

Informasi Kepada Pengunjung

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog ini, Semoga anda senang dan sering Berkunjung Ke_Blog ini lagi...."SEE You"

Informasi Kepada Pengunjung

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog ini, Semoga anda senang dan sering Berkunjung Ke_Blog ini lagi...."SEE You"

Senin, 04 Juli 2011

Nasehat - Nasehat Baik

Episode 1
---------

Jadilah dirimu sendiri untuk meraih masa depan..
manfaat khan disetiap sekeliling mu dan jadikn sebagai sahabat..
sayangi orang-orang terdekatmu dan cintai lah orang lain..
setia akan membuat kagum ditiap2 hari mu...
jadikan rasa ingin tahu mu disela-sela kesibukan..

Kisah Islami

KEJUJURAN SEORANG SAUDAGAR PERMATA
----------------------------------------

Pada suatu hari, seorang saudagar perhiasan di zaman Tabiin bernama Yunus bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga kedainya kerana ia akan keluar solat. Ketika itu datanglah seorang badwi yang hendak membeli perhiasan di kedai itu. Maka terjadilah jual beli di antara badwi itu dan penjaga kedai yang diamanahkan tuannya tadi.
Satu barang perhiasan permata yang hendak dibeli harganya empat ratus dirham. Saudara kepada Yunus menunjukkan suatu barang yang sebetulnya harga dua ratus dirham. Barang tersebut dibeli oleh badwi tadi tanpa diminta mengurangkan harganya tadi. Ditengah jalan, dia terserempak dengan Yunus bin Ubaid. Yunus bin Ubaid lalu bertanya kepada si badwi yang membawa barang perhiasan yang dibeli dari kedainya tadi. Sememangnya dia mengenali barang tersebut adalah dari kedainya. Saudagar Yunus bertanya kepada badwi itu, "Berapakah harga barang ini kamu beli?"

Badwi itu menjawab, "Empat ratus dirham."
"Tetapi harga sebenarnya cuma dua ratus dirham sahaja. Mari ke kedai saya supaya saya dapat kembalikan wang selebihnya kepada saudara." Kata saudagar Yunus lagi.
"Biarlah, ia tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang empat ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham."
Tetapi saudagar Yunus itu tidak mahu melepaskan badwi itu pergi. Didesaknya juga agar badwi tersebut balik ke kedainya dan bila tiba dikembalikan wang baki kepada badwi itu. Setelah badwi itu beredar, berkatalah saudagar Yunus kepada saudaranya, "Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali ganda?" Marah saudagar Yunus lagi.

"Tetapi dia sendiri yang mahu membelinya dengan harga empat ratus dirham." Saudaranya cuba mempertahankan bahawa dia dipihak yang benar.
Kata saudagar Yunus lagi, "Ya, tetapi di atas belakang kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri."
Jika kisah ini dapat dijadikan tauladan bagi peniaga-peniaga kita yang beriman, amatlah tepat. Kerana ini menunjukkan peribadi seorang peniaga yang jujur dan amanah di jalan mencari rezeki yang halal. Jika semuanya berjalan dengan aman dan tenteram kerana tidak ada penipuan dalam perniagaan.

Dalam hal ini Rasulullah S.A.W bersabda, "Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas dan memberi rezeki dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah di dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi di jiwa atau diharga." (Diriwayat lima imam kecuali imam Nasa'i)

Kisah Dunia Sophie

Dunia Sophie
---------------------
--> Nadirsyah Hosen

 

Apa yang menarik dari Sophie's World (Dunia Sophie) ? Buat sebagian orang, novel filsafat itu menarik karena berhasil menyederhanakan pembahasan filsafat yang rumit ke dalam bahasa yang sederhana. Buat sebagian yang lain, Sophie's World, yang ditulis oleh Jostein Gaarder dan menjadi best seller di manca negara, menjadi menarik karena pengarangnya berhasil memainkan rasa penasaran pembaca.

Buat saya, yang mendapat buku itu di toko buku bekas di kampus saya, buku itu menarik karena dua alasan. Pertama, saya amat terkesan ketika Albert Knox menulis untuk Sophie, gadis berusia 14 tahun, "Banyak manusia yang hidup di dunia dengan cara yang sama anehnya dengan pesulap yang menarik seekor kelinci keluar dari topi yang kosong. Dalam kasus kelinci itu, kita tahu pesulap telah mengerjai kita. Yang ingin kita ketahui adalah bagaimana dia melakukannya. Berbeda dengan dunia kita. Kita tahu bahwa dunia bukanlah tipuan tangan sebab kita ada didalamnya; kita bagian dari dunia itu.

Sebenarnya, kitalah kelinci putih yang ditarik keluar dari topi. Bedanya, kelinci itu tak sadar bahwa itu bagian dari sebuah tipuan sulap. Tidak seperti kita, kita menyadari bahwa kita adalah bagian sesuatu yang misterius dan kita ingin tahu bagaimana itu semuanya berjalan." (Jostein Gaarder, Sophie's World, Phoenix House, London, 1991, hal. 13)

Rasa ingin tahu yang dilukiskan di atas membawa kita untuk menggunakan akal kita. Hanya saja, Gaarder secara cerdik menulis cerita Sophie's World itu dengan sejumlah daya imajinasi yang sama sekali tak masuk akal. Bagaimana tokoh kartun bisa hidup di depan Sophie, bagaimana dunia bisa berubah ketika ia minum salah satu cairan dan bagaimana Sophie dan gurunya, Albert Knox, bisa lenyap dan ganti memata-matai Hilde dan ayahnya. Tapi justru inilah alasan ketertarikan saya yang kedua.

Dunia Sophie merupakan perpaduan dunia rasional dan dunia irrasional sekaligus. Saya kembali teringat akan Dunia Sophie di bulan Ramadhan ini. Bulan Ramadhan seyogyanya bisa membawa kita menyadari, bahwa di tengah hidup kita yang kompetitif dan selalu berpacu dengan hal-hal rasional, ada sebuah ruang luas yang menyediakan tempat untuk dunia irrasional (baca: dunia mistis).

Bisakah kita merasionalkan mengapa kita harus puasa? Mampukah akal kita menjelaskan bagaimana kita tidak boleh bergaul dengan perempuan, yang sudah sah kita nikahi, saat siang hari Ramadhan namun dibolehkan di waktu malam? Sanggupkah akal menjelaskan bahwa makanan dan minuman yang halal itu tiba-tiba tidak boleh kita nikmati untuk sementara waktu. Adakah penjelasan yang memuaskan rasio kita ketika dalam hadis Qudsi Allah berfirman, "puasa itu untuk-Ku!"

Dunia Sophie mengajarkan kita bahwa hidup ini tidak melulu berdasarkan hitungan rasional. Bulan puasa menjadi momen kita untuk menghela nafas sejenak dan merenungi sikap kita yang selalu mendewakan rasionalitas.

Di atas saya sudah mengutip Dunia Sophie, lalu bagaimana dunia menurut Fariduddin Aththar? Sufi besar yang hidup pada abad ke-12 ini menulis, "Dunia ini ibarat tenda kafilah dengan dua pintu: engkau masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu lainnya...Meskipun engkau seorang Iskandar Agung, dunia sementara ini kelak akan memberikan kain kafan bagi segenap keagunganmu..."

Aththar benar! Karena akal yang kita dewa-dewakan pun akan berujung pada sebuah kain kafan.

Kisah Abadi Laila n Majnun

Cinta si Majnun
-----------------------

--> Nadirsyah Hosen

 

Tahukah anda kekuatan sebuah cinta? Sadarkah kita bagaimana cinta bisa menjelma menjadi energi yangtiada habisnya? Qais, yang kemudian dikenal sebagai Majnun, membuktikan itu semua.

Qais mencintai Laila sepenuh hati. Ketika orang tua Laila menghalangi cinta mereka, Qais bukannya mundur malah ia berubah menjadi Majnun, pecinta yang tergila-gila pada Laila sehingga hidupnya berubah total.

Hakim Nizhami, sufi agung yang menuliskan kisah ini, melukiskan bagaimana cinta tak mengenal lelah, bagaimana lapar dan dahaga tak dihiraukan oleh Majnun, bagaimana energi cinta yang dihasilkan Majnun mampu menundukkan segenap binatang buas di hutan tempat persembunyiannya.

Loyalitas Laila pun tak bergoyang meskipun ayahnya menikahkannya dengan paksa kepada seorang bangsawan. Sampai akhir hayatnya bangsawan itu tak berhasil menyentuh Laila, yang notabene telah dipersuntingnya.

Ketika datang rasa rindu, bibir Majnun kering melantunkan tembang pujian dan syair kerinduan untuk Laila, ketika pagar rumah orang tua Laila menghalangi komunikasi mereka, Laila menulis surat cinta di potongan kertas kecil lalu ia biarkan angin membawanya sampai ke Majnun.

Ayah Majnun mencoba memberikan alternatif untuk Majnun. Dibuatlah pesta yang dihadiri segenap gadis cantik, namun bukanlah Majnun kalau tak mampu bersikap loyal pada kekasihnya. Majnun menampik semua tawaran itu.

Banyak orang yang percaya, bahwa kisah Laila Majnun itu merupakan simbol belaka. Hakim Nizhami sebenarnya hanya menunjukkan bagaimana sikap seorang pecinta sejati kepada kekasihnya. Ketika Laila dan Majnun telah tiada, konon, seorang sufi bermimpi melihat Majnun hadir dihadapan Tuhan. Tuhan membelai Majnun dengan penuh kasih sayang seraya berkata, "Tidakkah engkau malu memanggil-manggi-Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?"

Seperti Majnun yang mengeluarkan energi yang tiada habisnya, di bulan ramadhan ini kita pun belajar untuk menaikkan maqam cinta kita kepada Allah.Energi cinta yang kita pancarkan dibulan puasa seyogyanya mampu menundukkan nafsu buas di sekeliling kita.

Bibir kering dan perut lapar bukanlah alasan untuk menampik sebuah cinta ilahi. Dari tenggorokan yang kering justru keluar Bacaan Yang Mulia dan asma Kekasih Sejati kita, Allah swt. Ketika disekeliling kita banyak yang menyodorkan alternatif kebahagiaan, sebagaimana Majnun menolak tawaran ayahnya, kita pun bersikap setia pada kebahagiaan yang dijanjikan Allah kelak.

Ketika banyak yang mencoba memagari cinta kita dengan "pagar duniawi", seperti Laila yang mengungkapkan isi hatinya lewat potongan kertas yg dibawa angin, kita ungkapkan cinta sejati kita di bulan Ramadhan ini ke seluruh penjuru angin. Gema kalam ilahi di mana-mana, gema takbir terus mengalun, gema cinta terus dibawa angin menembus dinding perkantoran, pasar swalayan, gedung sekolah, taman perkotaan, rumah makan dan pusat-pusat perbelanjaan. Pagar-pagar itu tak akan mampu menghalangi cinta kita.

Di bulan Ramadhan ini sudahkah kita ukur cinta kita pada Allah swt. Malukah kita bila Majnun menegur kita, "sampai dimana pengorbananmu untuk Kekasih Sejatimu?" Bulan Ramadhan adalah media membuktikan cinta sejati itu, insya Allah!

Hukum Al-Qat

HUKUM AL-QAT (NAMA TANAMAN)
     _________________________________________________________________
 

        HUKUM AL-QAT (NAMA TANAMAN)        VII. Fiqih dan Kedokteran
        Dr. Yusuf Qardhawi

        PERTANYAAN

        Kami telah mengetahui pendapat Ustadz tentang hukum merokok,
        dan kecenderungan Ustadz untuk mengharamkannya, karena dapat
        menimbulkan mudarat bagi si perokok,  baik  terhadap  badan,
        jiwa,  maupun  hartanya,  dan  merokok itu merupakan semacam
        tindakan bunuh diri secara perlahan-lahan.

        Selain itu,  kami  juga  ingin  mengetahui  pendapat  Ustadz
        mengenai  bencana lain, yakni al-qat, yang tersebar diantara
        kami di Yaman sejak beberapa waktu lampau dan sudah  dikenal
        di  kalangan masyarakat, dari anak-anak muda hingga kalangan
        orang tua,  sehingga  para  ulama  dan  para  pengusaha  pun
        memakannya  tanpa  ada yang mengingkari. Tetapi kami membaca
        dan  mendengar  bahwa  sebagian   ulama   di   negara   lain
        mengharamkan   al-qat   ini   dan   mengingkari  orang  yang
        membiasakan dan selalu  menggunakannya,  karena  menimbulkan
        mudarat   dan   israf,   sedangkan   Allah   tidak  menyukai
        orang-orang yang israf (penghambur harta).

        Kami mohon penjelasan mengenai masalah  yang  sensitif  bagi
        masyarakat  Yaman  ini.  Mudah-mudahan Allah memberi balasan
        yang baik kepada Ustadz.

        JAWABAN

        Hukum  merokok  itu  sudah  tidak   diragukan   lagi   bahwa
        ketetapan-ketetapan  ilmu  pengetahuan dan kedokteran modern
        sekarang beserta dampak merokok bagi perokoknya,  menguatkan
        apa  yang  telah saya sebutkan secara berulang-ulang didalam
        fatwa-fatwa kami serta apa yang telah  kami  jelaskan  dalam
        kitab  kami  Fatawi  Mu'ashirah  (Fatwa-fatwa  Kontemporer),
        Jilid 1, akan haramnya orang yang selalu melakukan hal  yang
        merusak  badan  dan  harta serta memperbudak kemauan manusia
        ini. Bahkan penemuan  ilmu  pengetahuan  sekarang  meningkat
        lagi  dengan  ditemukannya  sesuatu yang baru lagi berkaitan
        dengan masalah merokok ini, yaitu apa yang sekarang  dikenal
        dengan   istilah   "perokok  pasif,"  yaitu  pengaruh  rokok
        terhadap orang yang tidak merokok yang  berada  dekat  orang
        yang  merokok.  Pengaruh atau akibat yang ditimbulkannya ini
        sangat  membahayakan  kadang-kadang  melebihi  bahaya  rokok
        terhadap perokoknya sendiri.

        Islam mengatakan:

             "Tidak boleh memberi bahaya kepada diri sendiri
             dan tidak boleh memberi bahaya kepada orang lain."
             (HR Ahmad dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas dan
             Ubadah)

        Maksudnya, janganlah kamu memberi  mudarat  (bahaya)  kepada
        dirimu  sendiri;  dan  janganlah kamu memberi mudarat kepada
        orang lain, sedangkan merokok itu menimbulkan mudarat kepada
        diri  sendiri  dan  kepada  orang  lain. Selain itu, syariat
        diturunkan untuk memelihara kemaslahatan yang teramat  pokok
        bagi  makhluk, yang oleh para ahli syariat diringkaskan pada
        lima hal: din (agama), jiwa,  akal,  keturunan,  dan  harta.
        Sedangkan     merokok     menimbulkan    mudarat    terhadap
        kemaslahatan-kemaslahatan ini.

        Adapun al-qat,  maka  muktamar  internasional  pemberantasan
        minum-minuman    keras,    narkotik,    dan   rokok   --yang
        diselenggarakan di Madinah al-Munawwarah dan disponsori oleh
        al-Jami'ah  al-Islamiyah di sana beberapa tahun lalu-- telah
        memasukkannya kedalam kategori  benda-benda  terlarang  yang
        disamakan dengan narkotik dan rokok.

        Tetapi  banyak  saudara  kita  dari  syekh-syekh dan lembaga
        pengadilan di Yaman menentang keputusan muktamar yang  sudah
        menjadi  ijma'  (kesepakatan)  ini dan menganggap bahwa para
        peserta muktamar tidak mengetahui  hakikat  al-qat.  Menurut
        mereka,  peserta  muktamar berlebih-lebihan dalam memutuskan
        hukum  serta  terlalu  ketat  terhadap  masalah  yang  tidak
        terdapat  larangannya  di  dalam  Al-Qur'an  dan  As-Sunnah.
        Padahal,  masyarakat  Yaman  sudah  mempergunakannya   sejak
        beberapa  abad  yang  lalu, termasuk para ulama, fuqaha, dan
        shalihinnya. Mereka masih tetap mempergunakannya sampai hari
        ini.

        Diantara  yang menentang keputusan itu ialah rekan kami yang
        alim  dan  penuh  ghirah,  yaitu  Qadhi   Yahya   bin   Luth
        al-Fusayyil,  yang  menerbitkan  sebuah  risalah  untuk  ini
        dengan  judul  "Dahdhusy-Syubuhat   Haulal-Qat"   (Membantah
        Syubhat   Seputar   Masalah  al-Qat)  yang  memuat  beberapa
        pengertian (pemikiran) sebagaimana yang saya  isyaratkan  di
        muka.  Dia  menyangkal adanya unsur keserupaan antara al-qat
        dengan  narkotik,  sebagaimana  ia  juga  menyangkal  adanya
        mudarat  seperti  yang  dikemukakan  oleh  orang-orang  yang
        bersikap keras.  Akan  tetapi,  ada  sesuatu  yang  bersifat
        khusus  berkenaan dengan sebagian orang sehingga larangannya
        pun harus dibatasi hanya untuk  mereka,  sebagaimana  halnya
        mudarat  madu  terhadap orang tertentu, demikian juga dengan
        israf, bahwa ia hanya untuk orang-orang tertentu saja.

        Namun demikian, informasi  yang  saya  peroleh  ketika  saya
        berkunjung  ke Yaman pada akhir tahun tujuh puluhan, melalui
        penglihatan dan pendengaran saya, bahwa  al-qat  menimbulkan
        dampak sebagai berikut:

        1. Harganya sangat  mahal.  Saya  terkejut,  saya  kira
           harganya   seperti   harga   rokok,   tetapi   ternyata
           berkali-kali lipat.

           Saya pernah makan siang di rumah seorang tokoh  bersama
           beberapa  orang  teman,  tiba-tiba  datang seorang tamu
           dengan membawa ranting-ranting kayu hijau. Para hadirin
           memperhatikan     bahwa    saya    melihatnya    dengan
           terheran-heran,  lalu  mereka  bertanya  kepada   saya,
           "Apakah  Anda  kenal  tumbuh-tumbuhan  yang hijau ini?"
           Saya  jawab,  "Tidak."  Mereka  berkata,  "Itu   adalah
           al-qat."  Kemudian  saya  tanyakan kepada mereka berapa
           harga seikat al-qat yang dibawa saudara kita itu,  lalu
           dia  menjawab, "Seratus lima puluh real." Saya tanyakan
           lagi, "Seikat itu  cukup  untuk  berapa  hari?"  Mereka
           menjawab,  "al-qat  itu  akan  dimakannya setelah makan
           siang ini, dan sebelum magrib pasti akan habis."

           Saya bertanya, "Apakah pengeluaran untuk al-qat sebesar
           ini   tidak   akan   memberatkan  keluarganya?"  Mereka
           menjawab, "Bahkan ada yang lebih  dari  itu,  ada  yang
           menghabiskan  tiga  ratus,  empat  ratus,  dan ada yang
           lebih banyak lagi."

           Saya yakin bahwa yang demikian itu sudah termasuk israf
           (berlebih-lebihan),  kalau tidak dikatakan mubadzir dan
           menghambur-hamburkan  harta  dengan  tiada   bermanfaat
           untuk kepentingan dunia dan akhirat.

           Apabila  kebanyakan  ulama  menganggap  bahwa  mengisap
           rokok atau  tembakau  --atau  "tutun"  menurut  istilah
           sebagian  yang  lain--  termasuk  israf yang terlarang,
           maka memakan al-qat lebih layak  lagi  tergolong  dalam
           kategori ini.

        2. Bahwa al-qat benar-benar menyita waktu bagi  pemakan
           atau  pengunyahnya.  Setiap  hari  mereka  menghabiskan
           waktu yang panjang, yaitu setelah zuhur hingga  magrib,
           padahal menurut kebanyakan orang rentang waktu tersebut
           cukup produktif. Maka orang yang mengunyah  al-qat  ini
           menghabiskan  waktunya di mulutnya dan menikmati dengan
           mulutnya itu, sementara ia  abaikan  segala  sesuatunya
           hanya  demi mengunyah al-qat ini. Waktu yang dihabiskan
           untuk mengunyah al-qat ini tidak sedikit, padahal waktu
           atau  kesempatan  merupakan modal bagi manusia. Apabila
           ia menyia-nyiakan waktunya  dengan  cara  seperti  ini,
           maka  benar-benar  ia telah menipu dirinya sendiri, dan
           tidak dapat menjadikan kehidupannya berbuat sebagaimana
           layaknya seorang muslim.

           Apabila dilihat dalam  skala  nasional,  maka  hal  itu
           merupakan   kerugian   umum  yang  amat  buruk,  sangat
           merugikan produktivitas dan perkembangan  ekonomi,  dan
           menyia-nyiakan  potensi  masyarakat  tanpa  alasan yang
           positif.

           Mudarat  ini   sudah   merupakan   fakta   yang   tidak
           diperdebatkan  oleh  siapa  pun,  dan sudah terkenal di
           kalangan saudara-saudara  di  Yaman  kata-kata  mutiara
           yang   berbunyi:  "Bahaya  al-qat  yang  pertama  ialah
           tersia-siakannya waktu."

        3. Saya mendapat informasi  dari  saudara-saudara  yang
           menaruh  perhatian  terhadap masalah ini di Yaman bahwa
           sekitar tanah  negeri  Yaman  ditanami  dengan  al-qat,
           yaitu di tanah yang paling subur dan paling bermanfaat,
           sementara negara ini mengimpor gandum  dan  macam-macam
           bahan makanan pokok serta sayur-mayur.

           Tidak  diragukan  lagi bahwa hal ini merupakan kerugian
           ekonomi yang besar bagi bangsa Yaman. Saya  kira  tidak
           seorang  pun  --yang  punya  kemauan untuk kebaikan dan
           masa depan negeri ini-- yang membesar-besarkan  masalah
           tersebut.  Artinya, informasi yang mereka kemukakan itu
           bukan mengada-ada dan tidak dibesar-besarkan.

        4. Penduduk Yaman berselisih pendapat mengenai pengaruh
           dan  bahaya  al-qat  terhadap  badan  dan  jiwa. Banyak
           diantara mereka  yang  menganggap  tidak  membahayakan,
           sebagian   lagi   menganggap   bahayanya   kecil   bila
           dibandingkan dengan manfaatnya, dan  orang  yang  telah
           mengalaminya  sukar  untuk  tidak  mengatakan demikian.
           Maka  ia  tidak  dapat  menghindar   dari   hukum   dan
           kesaksiannya ini.

           Tetapi   banyak  juga  orang  yang  telah  sadar,  yang
           menyatakan  bahwa  al-qat  menimbulkan   mudarat   yang
           bermacam-macam,  dan  anggapan terdapatnya manfaat pada
           al-qat  itu  tidak  ada  artinya  sama  sekali,  karena
           dosanya   lebih   besar   daripada  manfaatnya.  Bahkan
           sebagian  dokter  mengatakan  bahwa  al-qat   merupakan
           sarana  untuk  memindahkan  (menularkan)  penyakit  dan
           memiliki dampak yang buruk terhadap kesehatan.

           Diantara   ulama   Yaman    yang    berbicara    secara
           terang-terangan  untuk  mengingatkan  bahaya al-qat ini
           ialah  al-Allamah  al-Mushlih  Syekh   Muhammad   Salim
           Baihani.  Ketika  mensyarah  sebuah  hadits Nabawi yang
           berkenaan dengan khamar dan benda-benda memabukkan,  di
           dalam     kitabnya    Ishlahul-Mujtama'    (Memperbaiki
           Masyarakat), beliau mengatakan:

             "Disini saya mendapatkan peluang dan kesempatan
             yang tepat untuk membicarakan al-qat dan tembakau
             (rokok), dan orang yang terkena ujian dengan kedua
             hal ini banyak sekali, padahal keduanya merupakan
             musibah dan penyakit sosial yang fatal. Meskipun
             keduanya tidak memabukkan, tetapi bahayanya hampir
             sama dengan bahaya khamar dan judi, karena
             keduanya dapat menyia-nyiakan harta, menyita
             waktu, dan merusak kesehatan. Selain itu, karena
             keduanya dapat melalaikan orang dari melaksanakan
             shalat dan kewajiban-kewajiban penting lainnya.
             Ada orang yang mengatakan, 'Ini adalah sesuatu
             yang didiamkan oleh Allah, dan tidak ada satu pun
             dalil yang mengharamkan dan melarangnya.
             Sesungguhnya yang halal itu ialah apa yang
             dihalalkan oleh Allah dan yang haram itu ialah apa
             yang diharamkan oleh Allah, sedangkan Allah telah
             berfirman:

             "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di
             bumi untuk kamu ..." (al-Baqarah: 29)

             "Katakanlah, Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang
             diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi
             orang yang hendak memakannya, kecuali kalau
             makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir,
             atau daging babi ..." (al-An'am: 145)

        Apa yang dikatakan oleh  pembela  al-qat  dan  tembakau  itu
        memang  benar,  tetapi salah penempatannya sebagai dalil. Ia
        pura-pura lupa terhadap premis-premis umum yang  menunjukkan
        wajibnya  memelihara kemaslahatan dan haramnya barang-barang
        yang buruk serta keharusan menjaga diri agar tidak  terjatuh
        kedalam  mafsadat.  Sedangkan  sudah  dimaklumi bahwa al-qat
        sangat   berpengaruh   terhadap   kesehatan   badan,   dapat
        menimbulkan  kerusakan  gigi, menyebabkan bawasir (ambeien),
        merusak lambung, mengurangi nafsu makan,  menyebabkan  wadi1
        melimpah,  kadang-kadang merusak sungsum, melemahkan sperma,
        menjadikan  kurus,  menyebabkan  lama   tidak   berak,   dan
        bermacam-macam  penyakit.  Dan  anak-anak pemakan al-qat itu
        biasanya   tubuhnya   lemah,    badannya    kecil,    pendek
        perawakannya,   kurang  darah,  dan  ditimpa  bermacam-macam
        penyakit.

            Jika Anda ingin tahu bencananya bencana
            Lihatlah mabuk kepayangnya mengunyah al-qat
            Al-qat membunuh segala kemampuan dan kekuatan
            Melahirkan kesusahan dan kekecewaan
            Al-qat adalah ide beracun
            Melemparkan jiwa kepada bencana paling buruk
            Ia meluncur kedalam perut sebagai penyakit berbahaya
            yang Menjadi-menjadi.

Taman Alquran

    Taman AlQuran
     _________________________________________________________________
 

        Pernahkan anda  berjalan-jalan di suatu taman yang indah. Pohon2
yang rindang menyejukan menghias taman itu. Di tengah hamparan rerumputan
bagaikan permadani hijau tumbuh bunga2 mekar beraneka warna. Harum mewangi
meliputi seluruh taman. Gemercik air bening yang mengalir di sela2 batu
bagaikan simphoni yang sangat merdu. Diiringi cicit burung yang berloncatan
kesana kemari. Udara segar yang menyehatkan terasa menerpa tubuh. Membuat
setiap orang yang memasuki taman tersebut merasa betah. Sepanjang mata
memandang, hanya keindahan....

        Seindah-indahnya taman di Dunia belum dapat dibandingkan dengan
taman syurga. Sedangkan taman Syurga merupakan gambaran kenikmatan bersama
Kitabullah Al Qur-an. Setiap huruf, kata dan kalimat Qur-an merupakan
kesatuan yang unik membentuk gambaran yang indah melebihi sebuah taman
ataupun lukisan. Kitabullah disusun oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Komposisi keharmonisannya sempurna. Setiap bagiannya merupakan
ke-Mahakaryaan Sang Pencipta.

        Taman AlQur-an tidak terletak dibagian manapun di muka bumi. Dia ada
di hati insan yang mengimaninya. Menjadi sumber mata air kehidupannya.
Bagaikan ruh yang menjadi Dzat bagi hidupnya. Sayyid Qutb berkata, "Hidup
bersama AlQur-an adalah nikmat, nikmat yang tidak akan dirasakan kecuali
oleh orang2 yang pernah merasakannya".

        Rasulullah pernah berpesan, "Apabila kamu melewati taman2 syurga
makan dan minumlah sampai kenyang . Para sahabat bertanya, "Apa yang
dimaksud taman Syurga itu ya Rasulullah ?" Beliau menjawab "Kelompok dzikir
( yang mengkaji AlQur-an)".

        Ketika sekelompok hamba Allah mempelajari dan mengkaji isi Qur-an,
maka malaikatpun datang membawa keberkahannya. Rasulullah bersabda, " Dan
tidaklah berkumpul suatu kaum di satu rumah di antara rumah2 Allah melainkan
menyebarlah di antara mereka rahmat, dan Malaikat turun menaungi mereka dan
Allah mengingat mereka di sisi-Nya ".

        Kendati demikian, masih banyak umat Islam yang belum memahami
kemuliaan dan keistimewaan Kitabullah. Ibaratnya, "Al Qur-an berada di
lembah dan kaum muslimin berada dilembah lainnya". Masih banyak orang yang
mengaku beriman ternyata mereka asing dengan isi dan kandungan Kitabullah.
Perilaku mereka jauh dari tuntunan Kitabullah. Mereka lupa dengan Kitab Suci
yang akan mengangkat mereka ke puncak kemuliaan. Mereka itulah orang2 yang
membeli kesesatan dengan petunjuk dan menukar ampunan Allah dengan adzabNya.
Sungguh merugilah mereka karena terjauh dari taman Qur-an......
Mudahan-mudahan kita selalu berusaha untuk tidak menjadi orang yang merugi
ini. Amin.

Mengungkap Hidup setelah Mati

Mengungkap Hidup Setelah Mati
[Lanjutan mengungkap Kiamat]
----------------------------
 
Sebelum anda meneruskan bacaan anda ini saya ingatkan kepada anda
yang Muslim namun tidak terbiasa dengan gaya penjabaran ayat-ayat
Qur'an secara ilmiah untuk segera memalingkan situs anda dari sini
karena dalam penulisan ini anda nantinya akan dibuat terkejut dengan
beberapa analisa dan pentafsiran saya terhadap Kitabullah AlQur'an
Al-Karim dan Hadist Rasulullah Muhammad Saw yang bukan suatu hal
mustahil anda dapat terjerumus dalam pemahaman yang keliru sehingga
menggoyahkan akidah dan keimanan anda sekaligus mengadakan fitnahan
terhadap diri saya.

Pada bagian yang lalu kita sudah membicarakan perihal kejadian kiamat
yang data-datanya kita ambil dari dalam Qur'an suci dan kita
hubungkan pula dengan fenomena alamiah serta kajian Science Modern
yang mana pada pembahasan tersebut kita asumsikan bahwa komet adalah
sebagai penyebab dari Sa'ah tersebut.

Sekarang kita akan mencoba mengupas apa dan bagaimana kelanjutan
setelah Sa'ah itu terjadi serta apa yang dimaksud dengan tiupan
sangkakala kedua yang menjadi pertanda untuk kebangkitan manusia
seperti yang digambarkan oleh Kitabullah.

    Demi yang terbang dalam keadaan bebas,
    Yang membawa beban berat
    Yang bergerak dengan mudahnya
    Dan membagi-bagi urusan;
    Bahwasanya yang dijanjikan itu adalah benar. (QS. 51:1-5)

Diwaktu kedatangan komet membentur tatasurya ini, semua Ionosfir yang
melingkupi planet-planet dan bumi akan bergabung dengan komet
tersebut dan tinggallah lagi Atmosfir bagaikan telanjang hingga
pandangan mata manusia yang hidup kembali nantinya akan dapat melihat
semua benda angkasa lainnya tanpa penghalang seperti keadaannya kini
yang terhalang dan dihiasi oleh lapisan itu.

Setelah kedelapan komet besar itu selesai membentur dan menyeret
semua bintang berupa ekornya [sesuai dengan ayat 51:4 diatas],
berlaku dengan ketentuan Allah, maka kosonglah semesta raya ini dari
bintang-bintang yang begemerlapan dan komet-komet itu terus melayang
dengan kecepatan yang lebih tinggi tanpa penghalang.

Dalam hal ini kita perlu kita kemukakan bahwa komet itu terdiri dari
Neutron yang memiliki sifat untuk bergabung. Sifat ini bagaikan daya
penarik bagi setiap komet untuk saling bertemu satu sama lainnya.

Selama ini usaha bergabung itu tidak mungkin terlaksana karena
senantiasa dihalangi oleh bintang-bintang yang membelokkan arah gerak
komet itu beberapa derajat. Namun nanti setelah tiada bintang lagi
diangkasa raya yang menghalangi gerak layangnya langsunglah kedelapan
komet besar yang terbang dengan cepat ini membuat belokan melengkung
yang amat besar untuk bergabung menjadi satu.

Masing-masing komet akhirnya menuju kearah satu titik pertemuan
masing-masingnya diikuti oleh jutaan tatasurya. Pada titik tersebut
berantukanlah semua komet itu secara tepat, inilah ledakan terbesar
dalam sejarah semesta raya yang amat luas.

Jika sebelumnya benturan komet terhadap tatasurya kita yang umum
disebut dengan dentuman atau terompet pertama sudah segitu dahsyatnya
dengan kronologi bertabrakannya komet besar dengan ke-10 planet yang
mengorbit sistem matahari kita lengkap dengan bulan-bulannya
masing-masing dan Asteroids/Meteorites yang ada serta matahari yang
menyebabkan kematian seluruh makhluk hidup, maka alangkah dahsyatnya
pada hari benturan kedelapan komet besar yang diikuti oleh jutaan
tatasurya [termasuk tatasurya kita] yang dikenal dengan sebutan
terompet kedua yang sekaligus juga sebagai satu tanda kebangkitan
manusia dari matinya untuk mendapatkan perhitungan dari Allah atas
segala perbuatannya selama mereka hidup.

  Yaitu hari yang mereka mendengar ledakan besar secara logis,
  itulah hari kebangkitan.
  Bahwa Kamilah yang menghidupkan dan Kamilah yang mematikan dan
  kepada Kamilah tempat kembali. (QS. 50:42-43)

Dan ditiupkan sangkakala lalu mati apa-apa yang ada dilangit dan
apa-apa yang ada dibumi kecuali apa saja yang dikehendaki oleh Allah,
kemudian akan ditiupkan padanya [sekali lagi] maka tiba-tiba mereka
bangkit [dari mati dan] menunggu [pengadilan Tuhan atas mereka]. (QS.
39:68) Demikian AlQur'an memberikan keterangan mengenai tugas
sangkakala yang mengeluarkan teriakan kuat [dan kita analogikan
sebagai benturan dahsyat 8 komet dengan jutaan tatasurya sebagai
masing-masing ekornya] secara kronologi ditinjau sudut ilmiah bahwa
nantinya akan berlaku kejadiannya pada tatasurya kita dengan akibat
mematikan untuk selanjutnya ke-8 komet besar itu saling berbenturan
satu sama lain pada titik pertemuan yang ditentukan Allah.

Setelah 8 rombongan komet yang membawa seluruh bintang diangkasa,
berbenturan sesamanya yang dikenal dengan terompet kedua, maka ke-8
komet tadi langsung bergabung menyatukan diri kemudian membentuk
dirinya bagaikan bola yang maha besar melingkupi daerah semesta raya
ini, sementara itu semua bintang yang terseret jadi terkepung dalam
lingkungan besar sebagai besarnya daerah semesta raya sekarang ini.

Masing-masing bintang walaupun berantukan sesamanya tersebab arah
layang yang bertentangan dengan gerak begitu cepat namun Rawasia
Regular yang dimilikinya masih sangat berpengaruh untuk saling
bertolakan.
Ingat, bahwa Rawasia bintang bersistemkan Regular dan Rawasia yang
sama dengannya akan saling menolak satu sama lain.

Mulai dari waktu benturan, semua bintang mengambil posisi
masing-masing dipaksa oleh Rawasia yang dimilikinya dan kesempatan
itulah yang dipakai oleh 8 komet yang menjadi satu tadi untuk
menghindarkan diri sebagai kulit bola besar dan menempatkan semua
bintang itu dalam lingkungannya.

Lantas akan timbul pertanyaan: Bagaimana pula dengan planet-planet
yang mulanya mengorbit keliling bintang namun kemudian dempet melekat
pada bintang itu sewaktu terjadi Sa'ah ?

Diwaktu benturan hebat yang kedua kali ini, semua planet yang
terseret dan tetap utuh kebetulan melekat dempet pada bintang itu
jadi tergoncang hebat dan dahsyat sehingga melepaskan setiap planet
yang melekat dempet tadi kemudian langsung mengadakan orbit keliling
bintang itu dalam garis edarnya yang baru, termasuk planet bumi ini
yang otomatis permukaannya sudah berubah sesuai dengan firman Allah
dibawah ini.

  Hari dimana bumi diganti dengan bumi yang lain [dalam rupanya]
  begitu pula planet-planet, dan mereka semuanya tunduk kepada
  Allah yang Esa dan Perkasa. (QS. 14:48)

Dan sebagai akhir dari kejadian Sa'ah tersebut .... maka kehidupan
tatasurya bermula kembali.
Itulah dia akhirnya alam Akhirat yang dijanjikan !

Alam kehidupan baru bagi makhluk-makhluk Tuhan yang sudah mati akan
dibangkitkan hidup kembali untuk mempertanggung jawabkan perbuatan
mereka selama hidupnya dahulu.

Rasulullah Muhammad Saw menggambarkan keadaan pada hari kebangkitan
tersebut dalam dua hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang
tercantum dalam kitab "Terjemah Hadist Shahih Muslim" karangan
Fachruddin HS. Jilid I terbitan Bulan Bintang Jakarta 1981 hal 260
dan 285.

  Dari Sahal bin Sa'ad ra. katanya:
  Rasulullah Saw bersabda: "Dikumpulkan manusia pada hari kiamat di
  Bumi yang putih kemerah-merahan bagai dataran yang bersih, tidak
  ada tanda-tanda penunjuk untuk siapapun".

Dari Mikdad bin Aswad ra. katanya:
Rasulullah Saw bersabda: "Didekatkan matahari kepada manusia dihari
kiamat sehingga jarak matahari dari mereka sekira satu mil. Manusia
digenangi keringat menurut ukuran amal mereka..." Begitulah satu
keterangan yang cukup jelas bagi kita untuk menggambarkan keadaan
bumi dan sistem matahari yang telah mengalami Sa'ah dengan orbit dan
keadaan lain yang juga berubah total [sebagaimana pada Hadist yang
pertama dikatakan bahwa bumi berwarna putih kemerah-merahan akibat
penyatuannya semula dengan matahari pada waktu Sa'ah dan
menguapkan/menghanguskan semua benda hingga tidak ditemukan
tanda-tanda apapun sebagai penunjuk sementara jarak orbit matahari
kala itu teramat dekat dengan bumi dan sebagai perwujudan dari apa
yang selama ini dikenal orang dengan nama Padang Mahsyar].

Jika sekarang ini bumi kita diliputi oleh Atmosfir yang dalam
AlQur'an, Atmosfir disebut sebagai Barkah [sesuatu yang melindungi
sekaligus sebagai rahmat Allah] dengan lautan yang menggenangi hampir
separuh daratan bumi, maka setelah Sa'ah tersebut, bumi menjadi
telanjang dari Ionosfir sehingga pandangan mata dapat memandang lepas
keseluruh penjuru langit dan air laut menjadi menguap menimbulkan
bentuk-bentuk daratan baru dipermukaannya yang keadaannya tidak dapat
diramalkan orang bagaimana bentuknya saat itu.

Coba anda perhatikan ayat-ayat Tuhan berikut ini :

  Maka ketika bintang-bintang dilenyapkan [dari pandangan mata
  karena diseret komet]
  Dan apabila atmosfir telah dibuka dan gunung-gunung telah
  dihancurkan menjadi debu
  [yaitu meleleh karena jatuh dempet pada matahari]. (QS. 77:8-10)

Pada prinsipnya, tempat hidup di Akhirat nanti adalah tempat hidup
didunia ini juga yang sudah mengalami perombakan sedemikian rupa pada
saat Sa'ah, sebab dimana lagi tempat lain yang mungkin didiami dalam
semesta raya Tuhan kalau tidak dipermukaan salah satu planet ?
Bukankah Tuhan pula menyatakan bahwa dibumi ini juga manusia akan
dibangkitkan nantinya ?

  Dia berfirman: "Di sana engkau hidup dan disana pula engkau akan
  mati, dan dari sana pula engkau akan dibangkitkan. (QS. 7:25)

Dan tidakkah manusia pikirkan bahwa Kami jadikan ia dari setitik
Nutfah tetapi tiba-tiba ia jadi pembantah yang nyata, dan dia
mengadakan perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia
berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang
hancur luluh ?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang
menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala
ciptaan." (QS. 36:77-79)

Jika kamu ragu tentang kebangkitan nanti, maka sesungguhnya Kami
telah menciptakan kamu dari tanah [Turab], kemudian dari setetes mani
[Nutfah], kemudian dari segumpal darah ['Alaqah], kemudian dari
segumpal daging [Mudgah] yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu.

Dan Kami tetapkan dalam rahim [ibumu] apa yang Kami kehendaki sampai
waktu tertentu, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian
kamu sampai pada kedewasaanmu, dan diantara kamu ada yang diwafatkan
[sebelumnya] dan diantara kamu ada yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun agar dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah
diketahuinya. (QS. 22:5)

Pada hari kebangkitan itu, hari dimana setiap diri dihidupkan kembali
nanti terdapatlah dua macam bentuk manusia yang memperlihatkan
perbedaan yang menyolok ditentukan oleh perbedaan beriman dan
kafirnya.

  Pada hari yang akan ada muka yang putih berseri dan ada pula yang
  bermuka hitam muram.
  Kepada orang-orang yang hitam muram mukanya akan ditanyakan:
  "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman karenanya rasakanlah azab
  disebabkan kekafiranmu itu". Adapun orang-orang yang putih
  berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah. (QS.
  3:106-107)

Dan ditiup sangkalala, maka secara cepat mereka keluar dari kuburnya
bersegera kepada Tuhan mereka dan berkata :"Aduhai, celakalah kami !
Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat istirahat kami ?" Inilah
apa yang dijanjikan Yang Maha Pemurah dan benarlah [sabda] para
Rasul. (QS. 36:51-52)

Pemandangan dan pendengaran manusia dihari itu sangat tajam, jika
sekarang ini manusia hidup dalam alam tiga dimensi dimana panca
indera memiliki keterbatasan tertentu dalam pencapaiannya maka
diakhirat kelak manusia akan hidup dalam alam 4 dimensi dimana
penglihatan dan pendengaran tak terhalang dan tak dibatasi oleh
ukuran tertentu dalam lingkungannya malah mereka akan melihat serta
mendengar sesuatu pada gelombang yang sudah lama menggelombang
keangkasa luas yang kemudian kembali memantul kepada panca indera
mereka.

Keadaan seperti itu akan menakutkan manusia yang selalu berbuat dosa
selama hidup sebelumnya, pada hari itu juga dia dapat kembali melihat
rekaman kehidupannya yang pada hakekatnya adalah Neutron yang
senantiasa merekam segala gerak gerik yang berlaku dalam hidup satu
diri kemudian dia mengapung keangkasa sebagai anti partikel waktu
dimana fungsi rekamannya berhenti karena tiada lagi yang direkamnya.

Para ahli sependapat bahwa masa lalu tidak hilang begitu saja tapi ia
berpindah kewujud lainnya dan mengambang diangkasa yang beberapa
diantaranya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu yang memiliki
ketajaman indra ke-6 untuk melihat kejadian masa lalu yang pada
intinya adalah mengadakan persesuaian frekwensi pikirannya kearah
frekwensi rekaman yang ada, tinggal lagi sampai sejauh mana frekwensi
manusia tersebut dapat melihat secara luas dan jauh rekaman yang dia
inginkan yang tentu juga akan mengeluarkan banyak tenaga.

  Sesungguhnya engkau berada dalam keadaan lalai tentang hari Akhir
  ini, maka Kami angkatkan darimu tutupan pancaindera [yang
  menutupimu sebelumnya], maka penglihatanmu pada hari ini sangat
  tajam. (QS. 50:22)

Diberitakan kepada manusia pada hari itu apa yang telah dikerjakannya
dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu akan melihat riwayat
dirinya sendiri. (QS. 75:13-14)

Awaslah, karena sesungguhnya tulisan untuk orang-orang yang
pembangkang itu ada dalam Sijjin.
Dan sudahkah engkau tahu apa Sijjin itu ?
Yaitu Kitab Rekaman (QS. 83:7-9)

Ingatlah, bahwa tulisan orang-orang baik itu ada dalam 'Illiyyin.
Tahukah engkau apakah 'Illyyin itu ?
Yaitu Kitab Rekaman (QS. 83:18-20)

Dalam ayat yang lain Allah juga menerangkan dengan cukup jelas
perihal Kitab catatan Raqid 'Atid itu sebagai Mar'a yang dikeluarkan
dari setiap benda.

  Jagalah kesucian nama Tuhanmu Yang Maha tinggi.
  Yang telah menjadikan dan menyempurnakan.
  Dan yang telah menentukan serta menunjuki.
  Yang mengeluarkan Mar'a [berkas-berkas kehidupan]
  Lalu menjadikannya dalam keadaan mengapung dan berisikan catatan
  [gusaan ahwa]
  Kelak akan Kami beberkan padamu. (QS. 87:1-6)

Sekarang kita tinggalkan pembahasan bagaimana kiranya Allah akan
mengadili setiap makhluk berdasarkan Mar'a atau catatan hidupnya
sendiri dengan penuh sifat keRahmanan dan keRahiman-Nya, namun satu
hal yang pasti, Allah adalah hakim sebaik-baiknya yang akan mengadili
segala sesuatu dengan segala ketentuan-Nya dan akan membalasi semua
kebaikan dan kejahatan.

  Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga
  Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.
  (QS. 10:109)

Kami adakan neraca-neraca yang adil pada hari kiamat, lantaran itu,
sesuatu jiwa tidak akan teraniaya sedikitpun. Karenanya, meski
amalannya hanya seberat biji khardal [sawi] pasti akan kami balasi.
Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan. (QS. 21:47)

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu
tidak akan mendapatkan balasan lain kecuali dengan apa yang telah
kamu kerjakan. (QS. 36:54)

Sekarang, mari kita mulai membahas dimanakah letak syurga dan neraka
itu nantinya ?
Setelah kejadian Sa'ah, manusia dibangkitkan kembali dari bumi ini
yang sudah mengalami stelsel baru, dibumi ini juga manusia akan
diadili oleh Allah berdasarkan catatan hidup manusia tersebut
nantinya, lalu setelah selesai pengadilan tersebut, kemanakah manusia
yang kafir akan pergi keneraka dan kemana pula manusia yang beriman
akan menuju kesyurganya ?

Satu hal, bahwa manusia dijadikan dengan tubuh yang konkrit baik itu
sekarang maupun pada saat hari kebangkitan dan tubuh yang konkret
inilah yang kelak akan merasakan manisnya Iman atau pedihnya azab
neraka. Tak mungkin manusia yang konkrit akan ditempatkan dalam
neraka yang abstrak.

Neraka itu bahasa Indonesia terambil dari bahasa Qur'an artinya Api
menyala yang sangat besar.
Api besar mana disemesta raya ini yang mungkin ditempati oleh jutaan
milyar manusia kafir lengkap dengan segala Iblis dan para pengikutnya
?

Mari perhatikan firman Allah dibawah ini :

  Adapun orang-orang yang celaka itu berada dalam neraka, untuk
  mereka dalamnya suara gemuruh dan ketakutan. Mereka kekal di
  dalamnya selama ada planet-planet dan bumi, kecuali jika Tuhanmu
  berkehendak untuk apa yang Dia ingini. (QS. 11:106-107)

Pada ayat diatas ada disebutkan bahwa neraka itu akan tetap ada
selama adanya planet-planet yang mengorbit dan juga bumi. Apakah
maksudnya ?

Tidak lain bahwa neraka itu sebenarnya adalah sistem matahari kita
ini yang wujudnya tentu saja sudah diperbaharui pada saat Sa'ah
sebelumnya dan malah ukurannya mungkin lebih besar dari yang ada
sekarang karena dia sudah akan mendapatkan banyak "tamu" yang terdiri
dari planet-planet dan bulan yang luluh kedalam gravitasinya pada
waktu dempet kematahari pada hari Sa'ah.

Mari pula kita melihat apa yang dikabarkan oleh Nabi Musa kepada
kaumnya tentang Neraka itu:

  "Hai kaumku, bagaimana kamu ini, aku menyeru kamu kepada
  keselamatan tetapi kamu menyeru aku ke neraka ? Kamu mengajakku
  untuk kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang
  tidak kuketahui sedangkan aku mengajak kamu kepada Yang Maha
  Perkasa lagi Maha Pengampun.

Sebenarnya apa yang kamu serukan padaku tidak mempunyai hak apapun
baik di dunia maupun di akhirat. Dan tempat kita kembali hanyalah
kepada Allah sementara orang-orang yang melampaui batas, mereka
itulah penghuni neraka.

Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku
serahkan urusanku kepada Allah karena sesungguhnya Allah Maha Melihat
akan hamba-hamba-Nya". Maka Allah menyelamatkan dia dari kejahatan
yang mereka atur dan telah pastilah azab yang jahat kepada golongan
Fir'aun.

Kepada mereka dinampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari
terjadinya Sa'ah itu akan dikatakan kepada malaikat : "Masukkanlah
Fir'aun dan kaumnya kedalam azab yang sangat keras". (QS. 40:41-46)

Mari tinjau apa maksud ayat terakhir diatas (46) bahwa pada pagi dan
petang akan diperlihatkan Neraka kepada mereka sedangkan waktu itu
belumlah terjadi Sa'ah, yaitu pada hari mereka semuanya masih hidup
[perhatikan hubungannya dengan ayat sebelumnya], tentulah sudah jelas
bahwa matahari inilah yang dimaksudkan Neraka oleh Allah yang mereka
lihat terbitnya setiap pagi dan petang.

Walaupun setiap hari Fir'aun melihat matahari tetapi dia tidak
mengetahui bencana yang mungkin ditimbulkan oleh Api besar itu. Namun
pada akhirnya sebagai penyebab kematiannya, Fir'aun dikaramkan oleh
pembesaran radiasi matahari yang menimbulkan gelombang pasang di
Lautan Hindia hingga Laut Merah bagian utara mengalir keselatan
kemudian mengalir lagi keutara sembari menenggelamkan tentara Fir'aun
yang mengikuti kaum Musa dari belakang sebagai salah satu mukjizat
dan pertolongan Allah bagi Nabi Musa as.

Pada ayat suci yang lain ada juga dijelaskan betapa fungsi matahari
sebagai salah satu bintang sekaligus salah satu Neraka yang
diancamkan terhadap syaithan sesuatu siksaan yang perih dan membakar.

Ingat, dalam semesta raya yang dikenal dengan nama 'Arsy Allah ini
terdapat jutaan bintang-bintang yang terdiri dari jutaan tatasurya
dengan sistem mataharinya sendiri dan dengan planet-planet yang
mengorbit padanya yang masih menurut Qur'an pun terdapat planet yang
berkeadaan sama seperti bumi yang juga terdapat makhluk hidup. Dalam
Qur'an ada disinggung pula bahwa syaithan itu terdiri dari 2 jenis,
yaitu jenis manusia dan jenis Jin, Neraka pun dikenal ada beberapa
tingkatan yang kesemuanya itu mengacu pada banyaknya sistem matahari
yang ada.

  Dan sungguh Kami hiasi angkasa dunia ini dengan bintang-bintang
  dan Kami jadikan bintang-bintang itu ancaman bagi syaithan dan
  Kami sediakan bagi mereka siksaan yang perih. (QS.67:5)

Dan sesuai dengan Qur'an, maka siapapun yang kafir terhadap Allah dan
sudah masuk dalam matahari alias Neraka itu tiada akan dapat keluar
lagi karena ia berlaku sebagai satu siksaan yang kekal dan berkaitan
dengan ayat 11:106 dan 107 yang sudah kita bahas diatas. Barang siapa
yang mencoba keluar dari sana maka sudah ada penjaga-penjaga yang
terdiri dari para malaikat Allah merujuk pada ayat 66:6.

Lalu jika Neraka adalah matahari, mana pula yang disebut dengan
Syurga itu ?
Sebelumnya kita harus ingat lagi bahwa hidup di Akhirat nanti adalah
hidup konkrit sebagaimana keadaan hidup sekarang ini hanya saja
nantinya lebih sempurna, abadi dan tiada mengenal dosa dan semacamnya
sebagaimana sekarang ini, sesuai pula dengan beberapa ayat Qur'an dan
Hadist Rasulullah Muhammad Saw berikut :

  Adapun orang-orang yang dibahagiakan itu berada dalam surga,
  mereka kekal di dalamnya selama masih ada planet-planet dan bumi,
  kecuali apa yang dikehendaki Allah. (QS. 11:108)

Dari Abu Hurairah ra. katanya :
Rasulullah Saw bersabda: 'Sesungguhnya kamu tetap sehat dan tidak
akan sakit untuk selama-lamanya. Sesungguhnya kamu tetap hidup dan
tidak akan mati untuk selamanya. Sungguh kamu tetap muda dan tidak
akan tua untuk selamanya. Sungguh kamu tetap senang dan tidak akan
susah untuk selamanya. Itulah yang dimaksudkan dengan firman Allah :
"Dan mereka diseru bahwa itulah surga yang dipusakakan kepada kamu
disebabkan apa yang pernah kamu kerjakan". (QS. 7:43)
(Hadist Riwayat Imam Muslim)

Sebagaimana Neraka, maka syurga itupun tentulah konkret dan ada dalam
kawasan semesta Tuhan sebagaimana yang diterangkan pada ayat 11:108
diatas. Kesimpulannya ialah syurga yang dijanjikan itu adalah
permukaan planet-planet yang telah dibaguskan sedemikian rupa oleh
Allah pada hari Sa'ah. Itulah sebabnya kenapa Qur'an memakai istilah
"Jannah" yang selain berartikan kebun, juga berartikan Syurga dengan
bentuk pluralnya "Jannaat" yaitu sorga-sorga yang berartikan
planet-planet.

Seperti yang sudah kita bahas dalam artikel Mengungkap Kiamat[1]
bahwa bulan akan menjadi tiada karena sudah hancur bergabung dengan
matahari pada kejadian Sa'ah sehingga terciptalah siang-siang dalam
setiap tatasurya yang masing-masing memiliki matahari/Neraka yang
diorbit oleh planet-planet dalam jarak orbitnya yang baru.

  Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh itu, Kami
  tempatkan mereka dari syurga itu selaku tempat tinggi yang
  bergerak siang-siang dibawahnya, mereka kekal didalamnya. (QS.
  29:58)

Akan tetapi orang-orang yang muttaqien padaTuhannya, untuk mereka
tempat tinggi yang di atasnya ada tempat tinggi lagi selaku bangunan
yang bergerak di bawahnya siang-siang sebagai janji Allah dan Allah
tidak akan merubah janji tersebut. (QS. 39:20)

Mereka dan istrinya berada pada zilaal (planet yang melakukan
transit) diatas singgasana bersenang-senang. (QS. 36:56)

Dalam syurga itu mereka bersenang-senang diatas [planet sebagai]
singgasana ['Arsy Tuhan], tidaklah mereka melihat matahari [dari
dalamnya] dan tidak pula panas terik. (QS. 76:13)

Arti Anhaar bukanlah "sungai-sungai" sebagaimana yang ditafsirkan
orang selama ini untuk menunjukkan keadaan dalam syurga, kata Anhaar
selalu diiringi dengan istilah "dibawahnya" selain itu kata Anhaar
sebagai jamak atau plural dari Nahaar yang berarti "siang" seperti
Layaal jamak dari Lailu yang berarti "malam" sehingga kata Anhaar
berarti "siang-siang". Namun memang dalam beberapa ayat Qur'an yang
lainnya, kata Anhaar dapat berarti "sungai-sungai" sebagai jamak dari
Nahru, dan disinilah kita harus pandai memilah mana yang harus
ditafsirkan siang dan mana yang harus ditafsirkan dengan sungai.
Untuk penafsiran "sungai" itu umumnya diiringi istilah "padanya",
sebagai contoh :

  Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada para Muttaqien adalah
  *Padanya ada Anhaar* dari air yang tak membusuk dan *Anhaar* dari
  susu yang tidak berubah rasanya..." (QS. 47:15)

Jadi letak syurga itu sendiri adalah beberapa bagian planet yang
sudah diperbaharui yang tetap mengorbit matahari dengan orbit
lintasan yang baru pula yang memiliki keadaan tanah yang sangat subur
sesuai dengan sifat Jannah yang berarti kebun yang mana dalam hal ini
syurga tersebut adalah laksana planet yang berada dalam jalur
lintasan Neptunus atau malah juga Pluto pada saat ini, sebab mereka
adalah planet-planet yang memiliki jarak terjauh dari matahari
sehingga maksud ayat 76:13 dapat terpenuhi.

Dan memang jika syurga itu adalah berada dalam jalur lintasan
Neptunus atau Pluto, maka syahlah pendapat yang mengatakan bahwa
siang-siang bergerak dibawahnya, yaitu dibawah orbit mereka. Dalam
ayat Qur'an yang lain pula dinyatakan bahwa adanya penduduk syurga
yang melewati Neraka dan berseru kepada mereka. Selain itu,
digambarkan pula bahwa penduduk syurga akan mendapatkan beberapa
makanan yang kesemuanya menyerupai makanan yang bisa kita temui saat
ini.

  Dan penghuni surga menyeru penghuni neraka: "Sungguh, telah kami
  dapati kebenaran sebagai apa yang dulu dijanjikan Tuhan kepada
  kami. Maka apakah kamu pun telah mendapati apa yang sudah
  dijanjikan Tuhan kepada kalian ?". Mereka menjawab: "Benar !".
  (QS. 7:44)

Dan ketika mereka memandang kepada penduduk Neraka, mereka berkata:
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama dengan
orang-orang yang zalim itu". (QS. 7:47)

Dan gembirakanlah orang-orang beriman dan beramal shaleh itu, bahwa
bagi mereka ada surga-surga [planet-planet] yang bergerak siang-siang
dibawahnya. Setiapkali mereka diberi buah-buahan dari syruga itu,
mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kita dahulu".
Padahal yang diberikan pada mereka itu adalah yang disamarkan, dan
bagi mereka ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalam
syurga tersebut.

Sungguh Allah tiada segan membuat perumpamaan apa saja, nyamuk atau
yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka
mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi
mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini
untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu didapati beberapa banyak
orang yang tersesat tapi dengan perumpamaan itu pula beberapa banyak
orang yang mendapatkan petunjuk. Dan tidak akan tersesat dengannya
melainkan orang-orang yang fasik. (QS. 2:25-26) Lalu bagaimana cara
manusia untuk sampai ke syurga yang berupa planet yang tinggi dan
bertingkat-tingkat sesuai dengan garis orbit atau edarannya pada
matahari/Neraka itu ? Dan bagaimana pula cara manusia kafir itu
berjalan menuju matahari ?

  Dan mereka yang taqwa kepada Tuhannya dihimpun ke syurga
  berombongan hingga ketika mereka sampai kesana, dibukakanlah
  pintu-pintunya dan berkatalah para penjaganya: Keselamatan atas
  kamu, kamu merasakan kebaikan, maka masukilah dia sebagai
  orang-orang yang kekal." (QS. 39:73)

Dan planet-planet (zilaal = yang melakukan transit) jadi dekat atas
mereka dan diharmoniskan pencapaiannya seharmonisnya. Lalu diputarkan
diatas mereka sesuatu yang naik cepat dari perak (warna putih) dan
piala-piala yang mengkilap, yaitu benda mengkilap dari perak yang Dia
tentukan dengan ketentuan. (QS. 76:14-16)

Sampai disini kita sudah berbicara masalah sesuatu yang terbang cepat
diatas manusia yang berwarna putih mengkilap dibuat dari perak
laksana berbentuk piala [panjang mungkin seperti cerutu] yang akan
mencapai planet-planet syurga secara berombongan yang letaknya dekat
[karena cepatnya lesatan benda tsb maka dianggap tempat tujuan adalah
dekat] sehingga dikatakan pula seharmonis mungkin.

Nah ... disini untuk yang keranjingan UFO tampaknya sudah memiliki
pandangan tersendiri kira-kira bagaimana bentuk dan kecepatan
pengangkut Jemaah Syurga ini berlandaskan ayat 76:16)

Pertanyaan selanjutnya, dapatkah penduduk syurga yang satu berkunjung
kesyurga yang lainnya saling berkunjung satu sama lainnya ?
Untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini, maka mari kita simak
keterangan berikut ini:

  Dari Abu Sa'id Al Khudri ra. katanya :
  Rasulullah Saw bersabda: 'Sesungguhnya orang-orang yang mendiami
  syurga melihat orang-orang yang mendiami tempat tinggi diatas
  mereka sebagaimana mereka melihat bintang bercahaya yang jauh
  diufuk timur atau barat, karena berbeda tingkat kediaman antara
  mereka.' Para sahabat bertanya: 'Ya Rasulullah! Apakah itu hanya
  tempat berdiamnya para Nabi dan tidak dapat didatangi oleh selain
  mereka ?' Jawab Nabi: 'Bisa, demi Tuhan yang diriku dalam
  kekuasaan-Nya! yaitu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah
  dan membenarkan Rasul-rasul'. (HR. Imam Muslim)

Demikianlah kiranya satu penafsiran yang saya lakukan atas beberapa
kisah yang terdapat dalam AlQur'an, khususnya mengenai hari Sa'ah
atau kiamat dan fenomena yang mengitarinya termasuk masalah Syurga
dan Neraka berdasarkan kajian saya terhadap AlQur'an dan Hadist
Rasulullah disertai beberapa argumentasi ilmiah yang tentu saja
kemungkinan untuk salah masih terlalu besar dan banyak. Jadi,
silahkan anda mengikuti pemikiran saya ini jika anda sependapat
dengan saya serta silahkan anda memakai penafsiran anda sendiri
jikapun anda memiliki penafsiran yang jauh lebih baik tanpa perlu
harus ribut-ribut antara kita.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More